Thriller

Sixth Chatha: Novel Thriller Karya Sheny Andrea

Teks & foto: Ifan F. Harijanto

“Di antara kerumunan orang yang penasaran dan polisi yang tengah mengamankan lokasi pembunuhan, seorang lelaki berbadan tegap berdiri mengamati posisi mayat. Matanya memandang tajam dan sesekali tangannya mendekap cup kopi ke arah hidungnya. Ia mencium aroma kopi yang masih hangat itu, lalu meminumnya perlahan” – Prolog SIXTH CHATHA

Jakarta – Bertempat di Gramedia Gandaria City Jakarta Selatan, Kamis (9/8), Sheny Andrea yang selama ini dikenal sebagai artis sinetron dan pemain film, meluncurkan novel thriller karyanya yang berjudul “SIXTH CHATHA”. Mungkin agak asing dengan pemilihan judul yang bukan diambil dari bahasa yang mudah diartikan. Biasanya bahkan banyak pembaca yang sudah bisa menebak isi buku dari judulnya. Sheny Andrea memang sengaja mengambil sebuah kata yang sulit untuk dimengerti dan dipahami bahkan diartikan. Kata “CHATHA” yang digunakan sebagai judul novel tersebut merupakan kata dari bahasa Hindi Kuno. Untuk bisa mengetahui arti dan maknanya, Sheny menceritakan dirinya selama tiga bulan keluar masuk perpustakaan dan rumah ibadah umat Hindu di Bali. Namun Sheny menemukannya justru di perpustakaan Universitas Indonesia yang dikenal dengan koleksi buku sastranya yang lengkap. Itu juga dengan bantuan sahabatnya yang setia membantu dalam pembuatan novel ini.

Ketika ditanya oleh salah seorang pengunjung tentang apa arti dari “CHATHA”, Sheny enggan menjelaskannya, karena apabila diberitahu dan dijelaskan sebelum membaca novelnya, maka kejutan-kejutan yang sengaja ditulis dalam setiap ceritanya tidak akan lagi terasa. Jadi untuk mengetahui artinya, Sheny menyarankan untuk membaca novel tersebut.

Dalam acara launching tersebut, Sheny juga menjelaskan kalau dia terjun ke dunia penulisan bukan karena aji mumpung atau sekedar ikutan trend. Sheny tidak tertarik dengan tulisan seperti yang biasa ditulis oleh para selebritis dan public figure seputar berbagi tips, berbagi pengalaman, atau sekedar melucu. Sheny lebih tertarik untuk menulis yang memang bisa dibilang serius yaitu sebuah thriller. Menurutnya, menulis cerita thriller itu tidak membosankan, tapi justru membuat penasaran dan terus ingin menyambungkan dari satu cerita ke cerita lainnya. Sheny memberitahukan kalau dalam penulisan novel ini, selama enam bulan dia kadang harus menulis sampai larut malam bahkan pagi. Kesenangan Sheny menulis ternyata sudah sejak lama, karena menulis adalah salah satu caranya untuk berbagi perasaan dan pemikirannya.

Setelah tiga minggu beredar di toko buku, ternyata novel SIXTH CHATHA telah dilirik oleh seorang produser film untuk diangkat ke layar lebar, yaitu Dedi Abdul Rahman. Dedi yang hadir dalam launching novel SIXTH CHATHA mengungkapkan bahwa ketertarikannya pada novel ini karena jarang sekali ada novel thriller di Indonesia, terutama yang unik dan bisa membuat berbagai kejutan di setiap ceritanya. Maka itu, Dedi berpikir apabila novel thriller ini dijadikan sebuah film tentunya akan menarik.

Pernyataan Dedi Abdul Rahman ini disambut hangat oleh sahabat dan teman-teman Sheny yang hadir. Sheny Andrea sendiri tidak akan dilibatkan untuk menjadi pemeran di Film ini dengan alasan Sheny akan disibukkan dengan pembuatan skrip dan skenario, jadi Dedi lebih memilih pemain lain untuk berperan di filmnya nanti.

Di akhir acara, sebelum menutup dengan penandatanganan novelnya, Sheny berharap semoga SIXTH CHATHA ini bisa menginspirasi pembaca dan teman-temannya untuk menulis. Dari pengalamannya setelah menulis novel ini banyak teman-temannya yang ingin menulis juga, bahkan ingin diajari bagaimana cara menulis novel. Hal ini membuat Sheny merasa senang dibandingkan jika ditanya mengenai kegiatan lainnya, seperti jadwal shooting. Tapi bagaimanapun juga Sheny tetap tidak akan meninggalkan dunia peran yang telah digelutinya selama 13 tahun.

Terakhir, Sheny berharap novelnya ini bisa fenomenal dan menjadi ‘best seller’ untuk lebih memacu lagi dirinya menulis novel lainnya. Media penulisan memang sudah bergerak maju ke arah digital, namun mempunyai sebuah buku yang terasa fisiknya akan mempunyai rasa yang berbeda dan tidak tergantikan jika dibandingkan dengan tulisan yang ditampilkan di media digital. Industri kreatif dalam penulisan, penerbitan, dan percetakan masih akan tetap eksis ketika semangat para penulis untuk melahirkan karya-karya barunya terus bermunculan. Tentunya apresiasi serta respon dari para pembaca juga yang akhirnya akan menjadi penentu keberlanjutan sebuah buku. (*)

Portal Kreatif

Twitter Updates

Events

  • No events

Event Locations

  • No locations