Indonesia Netaudio Festival (INAF): Menjalin Hubungan Online dan Pengalaman Offline
Teks: Jaya Liem | Foto: dokumentasi INAF | Editor: Intan Larasati

Internet adalah fenomena total sosial budaya dari generasi sekarang dan generasi di umur pertengahan. Tahun-tahun belakangan ini berbagai jenis komunitas dan fenomena sosial lainnya terbangun melalui kemajuan dan penyebaran internet. Untuk musisi, kemajuan teknologi musik yang sangat inovatif pada saat ini memungkinkan mereka untuk memproduksi musik di rumah dengan lebih murah dan mudah. Kondisi ini mengakibatkan, salah satunya, bergesernya motif ekonomi dalam bermusik yang digantikan oleh motif sosial. Musik-musik yang diproduksi dengan murah itu seringkali didistribusikan secara cuma-cuma melalui internet dengan menggunakan media sosial seperti MySpace.
Belakangan dalam dunia musik digital hadir sebuah fenomena yang disebut ‘Netaudio’. Tidak ada catatan yang pasti tentang kapan dan oleh siapa istilah netaudio pertama kali dipakai. Yang jelas istilah itu menjadi populer di Eropa pada akhir tahun 90-an karena digunakan oleh majalah De:Bug dari Jerman yang mengkhususkan diri dalam membahas musik elektronik dan hal-hal yang berhubungan dengan budaya teknologi digital serta internet termasuk perangkat keras pendukungnya. Istilah netaudio kemudian juga digunakan oleh webzine Phlow dari Jerman yang mengkhususkan diri mengulas rilisan-rilisan netlabel pada awal tahun 2000-an dalam katalog netlabel-nya.
Istilah netaudio lantas didefinisikan sebagai proses memproduksi musik di komputer pribadi yang selanjutnya dipublikasikan melalui internet. Namun dalam perkembangannya, netaudio tidak hanya dipakai untuk menyebut musik yang diproduksi melalui komputer saja, tetapi mencakup semua jenis musik yang bergantung pada internet sebagai media untuk pendistribusiannya. Netaudio adalah suara dari internet.
Awal tahun 2000-an disebut sebagai periode pembentukan netaudio sebagai skena subkultur. Skena yang dapat dikatakan sebagai bagian dari gerakan pelopor yang mengeksplorasi kemungkinan dari jejaring dalam mempertemukan musisi dan konsumen musik sehingga terbangun ruang kreatif dan ruang sosial di mana musik baru dapat berkembang, tidak sekedar membuat musik tersedia melalui media internet. Skena itu juga berdasar pada filosofi musik bebas yang percaya bahwa semua individu memiliki kebebasan untuk menggandakan, mendistribusikan, dan mengubah musik untuk keperluan pribadi yang nonkomersil.

Dalam skena ini kemudian muncul netlabel yang berfungsi sebagai platform guna memfasilitasi musisi dan konsumennya untuk berkomunikasi secara langsung dalam lamannya. Netlabel, yang sering didefinisikan sebagai label rekaman yang mendistribusikan musik dalam format audio digital melalui internet baik secara cuma-cuma atau pun berbayar, sebenarnya memiliki fungsi yang lebih luas dari itu. Netlabel mempunyai fungsi penting sebagai katalis komunitas yang membantu untuk menghubungkan para pelaku utama dan mendukung pembangunan jejaring.
Tidak ada juga catatan tentang kapan munculnya netlabel. Namun banyak pihak yang menganggap bahwa Monotonik dari Inggris adalah netlabel yang pertama. Monotonik yang pada awalnya bernama Mono dibentuk pada tahun 1996 untuk merilis musik elektronik sumber-terbuka dalam format MOD yang bisa diunduh dengan cuma-cuma. Pada tahun itu Monotonik juga sudah merilis musik digital dalam format MP3 yang masih merupakan teknologi yang sangat baru pada saat itu.
Hadirnya musik digital dalam format MP3 dan alat pemutarnya secara luas pada tahun 1997 merupakan salah satu pemicu bermunculannya netlabel dan laman-laman yang menawarkan MP3 dari musisi independen yang bisa diunduh secara cuma-cuma. Dengan format ini, musik digital dapat dengan mudah disebarkan melalui internet. Netlabel yang muncul pada saat itu rata-rata dimiliki oleh para aktivis gerakan DIY, tape label dan demo scene.
Lisensi Creative Commons yang diperkenalkan secara luas pada tahun 2003 juga menjadi pemicu semakin tumbuhnya netlabel. Tersedianya lisensi Creative Commons yang gampang diterapkan dan mudah dipahami mendorong banyak orang untuk mendirikan netlabel. Kebanyakan netlabel yang masih beroperasi sampai saat ini muncul setelah tahun 2003 dan menerapkan lisensi Creative Commons untuk rilisannya.

Sejak saat itu netaudio dan netlabel berkembang cepat seiring semakin matangnya internet sebagai media komunikasi. Kegiatan netlabel tidak lagi sekedar merilis musik secara bebas dan cuma-cuma serta mengembangkan jejaring di internet saja, namun juga membentuk jalinan hubungan online dengan pengalaman offline. Kegiatan-kegiatan offline seperti membuat pertunjukan musik, diskusi, berbagi pengalaman serta pengetahuan mengenai musik dan teknologinya, digelar untuk mendorong para pelaku utama dalam skena ini untuk semakin kreatif. Perpaduan antara komunikasi online dan pengalaman offline menjadi penting untuk memperkuat hubungan sosial dan semangat komunal dalam membangun komunitas.
Kegiatan offline dalam skala besar sebagai ajang pertemuan antar pelaku dan penikmat netaudio untuk pertama kalinya diadakan di Bern, Swiss, pada tahun 2005 dengan format festival. Ide ini kemudian diadopsi dengan diadakannya Netaudio Festival di London pada tahun 2006 yang lalu menular ke Berlin, Barcelona, Moskow, dan kota-kota lain di Eropa. Netaudio Festival lantas menjadi ajang rutin dalam skena netaudio yang digelar setiap dua tahun.
Pada pertengahan November lalu, yaitu pada tanggal 16 dan 17, untuk pertama kalinya digelar Indonesia Netaudio Festival (INF) di Yogyakarta. Acara ini merupakan upaya Indonesian Netlabel Union untuk memperkenalkan netaudio serta eksistensi netlabel lokal kepada publik di Indonesia. Walaupun sebenarnya netaudio bukanlah hal baru di Indonesia, namun netlabel pertama di Indonesia yaitu Yes No Wave Music baru hadir pada tahun 2007. Indonesian Netlabel Union sendiri yang merupakan gerakan kolektif netlabel Indonesia juga baru terbentuk pada Januari 2011 dan sampai dengan artikel ini dibuat tercatat 17 netlabel yang sudah bergabung.

Pada hari pertama perhelatan INF yang mengambil tempat di Ruang Pertunjukan Kedai Kebun Forum diadakan diskusi dengan tema “Berbagi Musik Sebagai Pemberdayaan Budaya”. Diskusi ini menghadirkan empat orang pembicara yaitu Nuraini Juliastuti dari KUNCI Cultural Studies Center, Wok The Rock dari Yes No Wave Music, Anggung KuyKay dari Bottlesmokers, dan Ivan Lanin dari Creative Commons Indonesia. Dalam diskusi ini dipaparkan pentingnya berbagi karena dengan semangat berbagi bisa memberdayakan budaya.
Sore harinya kemudian digelar acara lokakarya radio online. Sebagai pemateri dalam lokakarya ini adalah Hujan! Radio dari Bogor dan Pamityang2an Qwerty Radio dari Yogyakarta. Dalam lokakarya ini peserta dijelaskan mengenai proses produksi radio online serta cara membuat radio online.
Sebagai acara terakhir pada hari pertama INF diadakan pemutaran film “PressPausePlay”, sebuah film dokumenter yang disutradarai oleh David Dworsky dan Victor Köhler. Film yang bisa diunduh secara gratis di presspauseplay.com ini membahas tentang demokratisasi di era digital. Berbagai pendapat pro dan kontra tentang revolusi digital dihadirkan dalam wawancara dengan berbagai tokoh dalam dunia digital seperti Moby, Seth Godin, Andrew Keen, dan Sean Parker.
Ketika berlangsungnya acara di dalam Ruang Pertunjukan Kedai Kebun Forum, di luar ruang juga digelar acara penggalangan dana untuk keberlangsungan INF dengan menggelar rilisan fisik dan merchandise dari netlabel yang terlibat. Selain itu juga diadakan offline file sharing di mana pengunjung bisa mengkopi rilisan-rilisan netlabel dari komputer yang tersedia dengan cuma-cuma, atau jika pengunjung ingin membagi musiknya dengan mengkopinya ke komputer supaya pengunjung lain juga bisa menikmatinya.
Hari ke dua INF diisi dengan pesta musik yang dibagi dalam dua sesi. Sesi pertama yang dimulai dari sore hari digelar di LAF Garden dengan menghadirkan musisi dan kelompok musik independen seperti Serigala Jahanam, Sangkakala, Terapi Urine, Sodadosa, Dream Society, Creo Nova, Belkastrelka, Frau, Bottlesmokers, dan Seek Six Sick. Sesi ke dua berlangsung di Oxen Free dengan menghadirkan Fyahman, TerbujurKaku, dan Umaguma + Lintang.
Informasi mengenai INF dan Indonesian Netlabel Union bisa didapatkan di indonesiannetlabelunion.net.
ART|JOG|12: Pengalaman Kreatif Ashley Bickerton
Teks: Jaya Liem | Foto: dokumentasi ARTJOG12
“Mengundang seorang seniman untuk hadir di art fair adalah sama dengan mengundang seorang anak untuk hadir di dalam kamar saat orang tuanya sedang berhubungan intim.”
Demikian ungkapan yang dikutip oleh Enin Supriyanto saat membuka acara Artist Talk ART|JOG|12 yang dilaksanakan di Gedung Societet Militer, Taman Budaya Yogyakarta, pada hari Minggu tanggal 15 Juli 2012.

Namun seiring dengan perkembangan art fair belakangan ini, dan juga pasar seni rupa, kondisi itu mulai berubah. Art fair perlahan menjadi ajang untuk bertemu, belajar, dan membangun jaringan. Para seniman tidak sungkan lagi untuk hadir di sebuah art fair. Hal ini dapat dilihat di ART|JOG, khususnya pada malam pembukaan, di mana para seniman, pemilik galeri, kolektor, dan pekerja seni lainnya tampak asyik bercengkerama. Hal ini terjadi seiring dengan bergesernya batas-batas antara art fair dan balai lelang.
Sebelum membuka acara sore itu, Enin Supriyanto sebagai moderator acara meminta panitia untuk memutar rekaman video dari Wim Delvoye yang tidak bisa hadir. Rekaman video tersebut malam sebelumnya juga diputar saat pembukaan ART|JOG|12, untuk mewakili Wim yang seharusnya hadir dan membuka perhelatan. Dalam rekaman video yang diputar, Wim meminta maaf kepada panitia ART|JOG|12 karena ia tidak dapat hadir diakibatkan penerbangan yang telah dipesannya mengubah jadwal, dan ia tidak bisa mendapatkan penerbangan lain untuk bisa hadir pada saat acara. Dalam rekaman video itu, Wim juga mengucapkan terima kasih kepada panitia dan berharap akan diundang kembali dalam acara berikutnya.
Jadilah Ashley Bickerton, seniman kelahiran Barbados yang sejak tahun 1993 menetap di Bali, sebagai satu-satunya seniman yang berbagi pengalamannya sore itu. Ashley bercerita tentang awal karir kesenimanannya yang dimulai di New York pada tahun 80-an, sambil memperlihatkan foto-foto karyanya melalui layar proyektor. Pada masa itu, Ashley hanya melukis, dan lukisannya memiliki tingkat presisi yang sangat tinggi. Untuk menghasilkan lukisan seperti itu, Ashley bekerja 18 jam sehari dan kadang melewatkan dua purnama untuk menyelesaikan satu lukisan. Dengan kualitas lukisan seperti itu, Ashley bersama-sama dengan Peter Halley, Meyer Vaisman dan Jeff Koons memulai gerakan Neo-Geo dan bersama-sama mereka dijuluki sebagai The Fab Four. Karya-karya mereka menjadi menonjol karena saat itu skena didominasi oleh karya-karya Neo-Expressionist.
Namun Ashley kemudian merasa bodoh ketika melihat lukisan-lukisannya yang hampir menyerupai foto dan waktu yang dihabiskannya untuk membuatnya. Dari sanalah kemudian ia beralih ke fotografi dan memanfaatkan perangkat lunak PhotoShop. Ashley membuat seri foto-foto close-up detil dari modelnya yang kemudian dimanipulasi dan digabungkan menjadi satu. Sebelum difoto, Ashley menorehkan lapisan cat ke tubuh dan pakaian model-modelnya. Foto yang telah dimanipulasi dan digabung lalu dicetak di kanvas untuk kemudian dilukis lagi dengan lapisan cat.

Setelah tinggal di Bali, Ashley mulai tertarik dengan ukiran kayu Bali. Karya-karyanya mulai diberi bingkai lebar dari ukiran yang juga ditempeli berbagai benda-benda kecil. Bidang kanvas juga mulai dilubang-lubangi. Di sini lukisan dengan bingkainya berelaborasi menjadi satu kesatuan yang saling mendukung.
Semakin lama cat atau make up yang diaplikasikan ke model-modelnya semakin tebal dan brutal, perlengkapan dan perhiasannya juga semakin tidak nyata. Efek keseluruhan yang dihasilkan menyerupai pelukis yang brutal dan emosional, namun akhirnya masih bisa disatukan oleh kedinginan fotografi. Hal inilah yang kemudian membuat Ashley memutuskan untuk tidak menggunakan model manusia lagi dan membuat modelnya sendiri dari tanah liat. Model tersebut juga diberi cat tebal dan berbagai perlengkapan beserta hiasan kemudian difoto.
Dengan membangun subjek fotografinya sendiri, Ashley bisa mengarahkan lebih jauh citraan fotografi dari kenyataan yang bisa dikenal, seraya mendorong celah yang makin dalam antara yang dilukis dan yang difoto. Foto yang dicetak di kanvas itu juga diperlakukan beda. Sebelumnya Ashley melukis semua bidang kanvas dengan lapisan cat tipis untuk menciptakan sejenis ilusi optik yang halus dan harmonis. Saat ini yang dilukis hanya bagian tertentu dengan lapisan cat tebal untuk menciptakan wacana pertentangan optik antara tetesan cat tebal yang asli dan tetesan cat tebal yang direproduksi. Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, Ashley juga memutar rekaman video tentang bagaimana ia berkarya dan menghasilkan karya-karya yang merupakan hibrida dari seni lukis, fotografi, dan seni patung.
Sesi berikutnya kesempatan diberikan kepada Wang Zineng dari Rumah Lelang Christie’s yang diundang sebagai penanggap. Sebelum Zineng memberikan tanggapan, Enin menginformasikan hasil percakapannya dengan Zineng sebelum acara dimulai, yaitu bahwa saat dari semua karya seni yang ditawarkan oleh Christie’s Hong Kong, 60 persennya adalah karya seniman Indonesia. Demikian juga penjual dan pembeli dari Indonesia yang mendominasi pasar Christie’s Hong Kong dengan angka persentase yang sama.
Zineng memulai tanggapannya dengan memperlihatkan karya Ashley Bickerton, Adrien Jean Le Mayeur, Indieguerillas, dan Entang Wiharso. Dari karya seniman-seniman itu, Zineng kemudian mengupas secara singkat mengenai kesamaan dan kekuatan dari karya-karya itu, yaitu sering memvisualkan ikon-ikon kebudayaan lokal. Menurut Zineng, muatan itulah yang membuat karya mereka berbeda dalam dunia seni saat ini. Mungkin lokalisasi kebudayaan inilah yang akan menjadi DNA dari seni rupa kontemporer Asia.

Penanggap berikutnya yang juga dihadirkan adalah Nicola Trezzi, editor majalah Flash Art. Mengenai pertanyaan Enin perihal posisi seni rupa Asia yang sempat diabaikan dan susah mendapatkan tempat dalam seni rupa dunia , Nicola mengatakan bahwa Eropa dan Amerika sentris dalam seni rupa hanyalah fiksi, bukan hal yang benar-benar terjadi. Bagi Nicola, hal itu hanya sesuatu yang dibuat-buat untuk dipercayai. Bahwa kemudian hal itu ada, ia tidak peduli tentang itu. Sebagai contoh, dalam majalah Flash Art ada bagian khusus yang membahas tentang seniman Asia. Namun ketika membicarakan tentang Yayoi Kusama atau pun almarhum Nam June Paik, hal ini akan menjadi kabur karena kedua seniman ini lebih sering berada di luar Asia dan tidak bisa benar-benar dikategorikan sebagai seniman Asia.
Kenyataan bahwa tidak adanya pemusatan semakin jelas, ketika pemilik Art Basel di Swiss, art fair terbesar dan paling bergengsi di dunia, menjadi pemegang saham mayoritas ART HK tahun lalu dan ikut berkolaborasi dalam menyelenggarakan ART HK 12 di Hong Kong bulan Mei lalu. Satu dekade sebelumnya Art Basel juga menginisiasi Art Basel Miami di Miami, Florida, Amerika Serikat. Dengan demikian, Hong Kong, dalam hal ini Asia diposisikan sama pentingnya dengan Eropa dan juga Amerika.
Menanggapi soal Ashley Bickerton yang pindah dan berkarya di Bali dari New York yang merupakan salah satu kota pusat seni rupa dunia, Nicola mengatakan bahwa saat ini banyak sekali seniman yang merelokasi diri ke tempat lain untuk berkarya seperti: Francis Alÿs, seniman dari Belgia yang pindah ke Meksiko; Paolo Pivi, seniman multimedia dari Italia yang pindah ke Alaska; dan Santiago Sierra, seniman kelahiran Meksiko yang saat ini hidup di Madrid, Spanyol. Pergerakan seniman-seniman itu adalah untuk kepentingan berkarya di mana mereka bisa menemukan konteks untuk karya mereka. Bagi Nicola, hal itu adalah sesuatu yang masuk akal ketimbang seniman yang pindah ke New York untuk mencoba meraih kesuksesan.
Di akhir acara, Ashley mengatakan dia sering mendapatkan pertanyaan mengenai karya-karyanya yang tidak berbau Indonesia, walaupun dia telah tinggal di Bali lebih dari 13 tahun. Ashley sering dibandingkan dengan Paul Gauguin, dalam hal sebagai orang Barat yang pindah ke tempat eksotik, yang lalu membuat karya-karya figuratif yang berwarna-warni dengan nuansa erotik. Ashley mengatakan, karyanya tidak harus berhubungan dengan tempat dia tinggal. Walaupun hidup di Bali, dia tidak harus melukis wayang, penari bali, dan hal-hal eksotik lainnya. Dengan mengisolasi diri dari hiruk-pikuk dunia (Barat), ia bisa melihat lebih dan melontarkan kritik yang lebih tajam tentang budaya Barat, ia bisa jauh lebih vulgar dan lebih dari bajingan kecil internasional.(*)
Berita Terkait
Kompetisi Desain “Pengalaman Seru di Kotamu…”
Gantibaju.com bekerjasama dengan Flamingo.co.id menantang kamu untuk menyelesaikan Kompetisi Desain dengan tema “Pengalaman Seru di Kotamu”.

Ketentuan:
1. Desain menggambarkan ilustrasi pengalaman berwisata di kotamu atau di kota-kota yang pernah kamu kunjungi. Contoh: berwisata kuliner di Sabang, belajar membatik di Yogyakarta, snorkeling di Pulau Komodo, birdwatching di Raja Ampat, upacara adat di Dieng.
2. Desain wajib menggunakan icon Flamingo.co.id (download di sini) yang boleh di-trace ulang, namun ciri khas dari icon tersebut jangan sampai hilang.
3. Desain dibuat di atas media kaos dengan warna abu-abu (#dddddd).
4. Maksimal penggunaan warna dalam desain adalah 8 warna dan tida memotong jahitan pada kerah.
5. Boleh mengirimkan desain lebih dari satu.
6. Desain tidak boleh mengandung unsur SARA atau pornografi.
7. Segala diskusi mengenai kompetisi desain ini akan dilakukan di Twitter (@gantibajudotcom) dan Facebook (facebook.com/gantibaju atau facebook group gantibaju)
Hadiah untuk 3 orang pemenang:
1 orang pemenang utama
Uang tunai Rp 1.500.000 dan paket travel PP Jakarta-Sabang senilai Rp 4.000.000 + voucher Gantibaju.com sebesar Rp 200.000
2 orang pemenang
Paket travel PP Jakarta-Sabang senilai Rp 4.000.000 + voucher Gantibaju.com sebesar Rp 200.000
Masa kompetisi:
- Design Submission: 16 – 31 Juli 2012
- Design Voting: 16 Juli – 5 Agustus 2012
- Penjurian: 6 Agustus 2012
- Pengumuman Pemenang: 7 Agustus 2012
Yang tidak bisa desain, bisa ikutan vote desain yang kamu suka, vote sebanyak-banyaknya, dan kamu akan memenangkan: 1 kaos Gantibaju.com untuk 1 lucky voters.
Masing-masing pemenang akan dicetak kaosnya dan dijadikan merchandise flamingoID, yang nantinya akan digunakan oleh orang-orang yang berlibur bersama flamingo.co.id keliling Indonesia.
Buruan ilustrasikan pengalaman jalan-jalanmu, siapa tau bisa beruntung mendapatkan uang tunai + paket jalan-jalan ke Sabang bersama Flamingo.co.id dan paket kaos Gantibaju.com!
Sumber: gantibaju.com