Kontes Karya Showcase Indonesia Kreatif

Kontes Karya Showcase Indonesia Kreatif
Tema: “15 SUBSEKTOR INDUSTRI KREATIF INDONESIA”
8 Karya terbaik akan dibuatkan video profile serta karyanya. 7 Karya terbaik lainnya akan mendapatkan Goodybag menarik dari Indonesia Kreatif.
Syarat dan Ketentuan berlaku:
1. Karya harus original
2. Hak Cipta & Hak Milik karya Pelaku Kreatif
3. Karya sesuai dengan “15 SUBSEKTOR INDUSTRI KREATIF INDONESIA”
4. Dimensi foto sesuai karya atau A5/A4 (Landscape atau Portrait)
5. Format foto .jpg .png .gif
6. Cantumkan biodata diri lengkap Nama Lengkap, Tempat/Tgl. Lahir, Alamat Rumah/Kantor, Twitter, Facebook, Web / Blog, No Telp.
7. Karya disubmit ke http://showcase.indonesiakreatif.net
8. Pengiriman karya terakhir diterima tanggal: 8 Januari 2013
Direktorat Pengembangan Media PAREKRAF: Karya Fiksi di Daerah
Teks & foto: Hani Rosidaini | Editor: Intan Larasati

Tanggal 17 Oktober 2012 menjadi hari yang cukup menggembirakan bagi para penulis lokal Bandung. Pasalnya, pihak pemerintah yang diwakili oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (PAREKRAF) Direktorat Pengembangan Media membuka diskusi grup yang berfokus pada “Problematika dan Tantangan Publikasi Karya Fiksi di Daerah”. Mereka ingin mendapatkan insight langsung dari para praktisi, sebenarnya apa saja masalah yang terjadi dan bagaimana cara agar bisa saling bersinergi sehingga dapat memajukan dunia kepenulisan.
Dibuka langsung oleh Bapak Dadang dari PAREKRAF, dan dimoderatori oleh Mufti Nurlatifah dari Fikom UGM, pertemuan yang bertempat di Hotel Carrcadin itu dihadiri oleh 25 orang penulis aktif dari berbagai komunitas. Di antaranya adalah FLP Bandung (Forum Lingkar Pena), F-PBA (Forum Penulis Bacaan Anak), IIDN (Ibu-ibu Doyan Nulis), dan MSB (Majelis Sastra Bandung). Dalam fakta-fakta yang terkuak melalui diskusi yang berlangsung efektif itu, dapat dirumuskan beberapa hal, dan berikut adalah di antaranya.

Di Bandung sebenarnya sudah banyak sekali kantong-kantong potensi kepenulisan. Selain kelompok yang bersifat umum, klub-klub berbasis kampus juga ikut tumbuh dan berkembang. Irisan ini memiliki banyak manfaat, karena dapat membentuk varitasi yg cukup efektif, kompetisi yang sehat, serta fasilitasi akar rumput akan menghasilkan pembinaan yang lebih intensif. Asalkan tidak dijadikan sekat untuk bisa saling mendukung. Namun mayoritas dari mereka ternyata masih terbentur dengan akses ke penerbitan. Selain itu idealisme mereka sering berlawanan dengan kepentingan penerbit untuk selalu mengikuti selera pasar. Dari sisi penerbit sendiri, memang hal tersebut menjadi dilema yang cukup besar. Bagaimanapun sisi ekonomi termasuk dalam motif utama, sedangkan hampir separuh dana diambil oleh distributor. Namun selain itu, ada juga faktor kejenuhan. Misalnya, penerbitan yang identik dengan tema tertentu, yang akhirnya diberondong oleh karya-karya tematik, padahal mereka sendiri sebenarnya menginginkan nafas baru dalam produksinya.
Maka akhirnya semuapun kembali ke pasar. Masyarakat yang menentukan sebuah buku dapat diterima atau tidak. Sayangnya, seperti yang kita tahu bersama, bahwa minat dan selera baca warga negara kita masih relatif rendah. Menurut Dipa dari FLP, “Jika berdasarkan pada teori, orang kita itu masih ada di level melek huruf. Dalam tahapan melek mekanik, masih diisi oleh para akademisi yang bacaannya sesuai dengan bidang masing-masing, contohnya psikolog membaca jurnal psikologi, atau pengacara untuk bacaan tentang hukum. Jika sudah sampai di tahap melek budaya, barulah orang-orang akan terbiasa menerima dan memahami berbagai macam bentuk literasi, dan ini masih segelintir orang. Saat semua lapisan sudah terdidik, benturan-benturan akan berkurang, dan pembinaan inilah yang menjadi PR besar kita bersama.”

Jika menyangkut dengan urusan pemerintahan, jeritan para penulis ternyata cukup seragam. Mereka mengeluhkan tentang pajak yang begitu besar, jika dibandingkan dengan sedikit royalti yang mereka dapat, terutama bagi para penulis baru yang namanya belum terlalu dikenal. Padahal peran mereka serta mereka dalam mempengaruhi karakter masyarakatpun harus diperhitungkan. Masalah tersebut juga ternyata akhirnya menimbulkan fenomena baru, yaitu banyaknya kemunculan penerbitan indie. Karena keberadaannya yang tidak terdeteksi, mereka bisa bebas dari tuntutan pajak. Yang kemudian menjadi masalah lain lagi, yaitu kualitas yang dipertanyakan, karena kurangnya kontrol, di mana semua orang bisa saja menerbitkan buku asalkan punya uang.
“Saya rasa ini sudah makin keluar jalur. Kalo begini terus, masyarakat sekarang seperti dilempar ke lautan buku, dilepas begitu saja untuk memilih, kalo dapet buku bagus ya syukur, nggak ya udah”, papar Bang Aswi, salah satu anggota F-PBA yang mengaku mulai enggan ke toko buku karena hal tersebut.

Namun daripada terus menerus berharap dari pihak lain, para penulis juga mulai introspeksi diri atas keberadaan mereka dan teman-teman seprofesi. Harus diakui memang belakangan ini banyak sekali penulis instan, yang baru bisa menulis, tapi langsung ingin menerbitkan buku. Teknologi yang ada memudahkan mereka sekaligus melenakan. Jika meminjam kata-kata Bang Aswi, anak sekarang itu “bukan lagi budaya kritis, tapi budaya Like This”. Dengan mendapatkan banyak jempol di media sosial, mereka jadi punya kecenderungan untuk sulit menerima kritik, dan mentalnya mudah surut. Maka kembali ke peran komunitas, perlunya diadakan pembinaaan dan dorongan agar perkembangannya lebih matang.
Jika dirunut, memang akhirnya semua memiliki perannya masing-masing. Diharapkan dengan adanya diskusi ini, menjadi awal yang baik untuk membentuk industri perbukuan. Dalam waktu dekat, PAREKRAF akan mengadakan lomba penulisan di 14 kota di Indonesia. Dan jika kondusif, sesuai dengan aspirasi para peserta diskusi, program award pun akan diusahakan.
Sixth Chatha: Novel Thriller Karya Sheny Andrea
Teks & foto: Ifan F. Harijanto
“Di antara kerumunan orang yang penasaran dan polisi yang tengah mengamankan lokasi pembunuhan, seorang lelaki berbadan tegap berdiri mengamati posisi mayat. Matanya memandang tajam dan sesekali tangannya mendekap cup kopi ke arah hidungnya. Ia mencium aroma kopi yang masih hangat itu, lalu meminumnya perlahan” – Prolog SIXTH CHATHA

Jakarta – Bertempat di Gramedia Gandaria City Jakarta Selatan, Kamis (9/8), Sheny Andrea yang selama ini dikenal sebagai artis sinetron dan pemain film, meluncurkan novel thriller karyanya yang berjudul “SIXTH CHATHA”. Mungkin agak asing dengan pemilihan judul yang bukan diambil dari bahasa yang mudah diartikan. Biasanya bahkan banyak pembaca yang sudah bisa menebak isi buku dari judulnya. Sheny Andrea memang sengaja mengambil sebuah kata yang sulit untuk dimengerti dan dipahami bahkan diartikan. Kata “CHATHA” yang digunakan sebagai judul novel tersebut merupakan kata dari bahasa Hindi Kuno. Untuk bisa mengetahui arti dan maknanya, Sheny menceritakan dirinya selama tiga bulan keluar masuk perpustakaan dan rumah ibadah umat Hindu di Bali. Namun Sheny menemukannya justru di perpustakaan Universitas Indonesia yang dikenal dengan koleksi buku sastranya yang lengkap. Itu juga dengan bantuan sahabatnya yang setia membantu dalam pembuatan novel ini.
Ketika ditanya oleh salah seorang pengunjung tentang apa arti dari “CHATHA”, Sheny enggan menjelaskannya, karena apabila diberitahu dan dijelaskan sebelum membaca novelnya, maka kejutan-kejutan yang sengaja ditulis dalam setiap ceritanya tidak akan lagi terasa. Jadi untuk mengetahui artinya, Sheny menyarankan untuk membaca novel tersebut.

Dalam acara launching tersebut, Sheny juga menjelaskan kalau dia terjun ke dunia penulisan bukan karena aji mumpung atau sekedar ikutan trend. Sheny tidak tertarik dengan tulisan seperti yang biasa ditulis oleh para selebritis dan public figure seputar berbagi tips, berbagi pengalaman, atau sekedar melucu. Sheny lebih tertarik untuk menulis yang memang bisa dibilang serius yaitu sebuah thriller. Menurutnya, menulis cerita thriller itu tidak membosankan, tapi justru membuat penasaran dan terus ingin menyambungkan dari satu cerita ke cerita lainnya. Sheny memberitahukan kalau dalam penulisan novel ini, selama enam bulan dia kadang harus menulis sampai larut malam bahkan pagi. Kesenangan Sheny menulis ternyata sudah sejak lama, karena menulis adalah salah satu caranya untuk berbagi perasaan dan pemikirannya.
Setelah tiga minggu beredar di toko buku, ternyata novel SIXTH CHATHA telah dilirik oleh seorang produser film untuk diangkat ke layar lebar, yaitu Dedi Abdul Rahman. Dedi yang hadir dalam launching novel SIXTH CHATHA mengungkapkan bahwa ketertarikannya pada novel ini karena jarang sekali ada novel thriller di Indonesia, terutama yang unik dan bisa membuat berbagai kejutan di setiap ceritanya. Maka itu, Dedi berpikir apabila novel thriller ini dijadikan sebuah film tentunya akan menarik.

Pernyataan Dedi Abdul Rahman ini disambut hangat oleh sahabat dan teman-teman Sheny yang hadir. Sheny Andrea sendiri tidak akan dilibatkan untuk menjadi pemeran di Film ini dengan alasan Sheny akan disibukkan dengan pembuatan skrip dan skenario, jadi Dedi lebih memilih pemain lain untuk berperan di filmnya nanti.
Di akhir acara, sebelum menutup dengan penandatanganan novelnya, Sheny berharap semoga SIXTH CHATHA ini bisa menginspirasi pembaca dan teman-temannya untuk menulis. Dari pengalamannya setelah menulis novel ini banyak teman-temannya yang ingin menulis juga, bahkan ingin diajari bagaimana cara menulis novel. Hal ini membuat Sheny merasa senang dibandingkan jika ditanya mengenai kegiatan lainnya, seperti jadwal shooting. Tapi bagaimanapun juga Sheny tetap tidak akan meninggalkan dunia peran yang telah digelutinya selama 13 tahun.

Terakhir, Sheny berharap novelnya ini bisa fenomenal dan menjadi ‘best seller’ untuk lebih memacu lagi dirinya menulis novel lainnya. Media penulisan memang sudah bergerak maju ke arah digital, namun mempunyai sebuah buku yang terasa fisiknya akan mempunyai rasa yang berbeda dan tidak tergantikan jika dibandingkan dengan tulisan yang ditampilkan di media digital. Industri kreatif dalam penulisan, penerbitan, dan percetakan masih akan tetap eksis ketika semangat para penulis untuk melahirkan karya-karya barunya terus bermunculan. Tentunya apresiasi serta respon dari para pembaca juga yang akhirnya akan menjadi penentu keberlanjutan sebuah buku. (*)
Lomba Karya Tulis Pariwisata Indonesia
Lomba Karya Tulis Pariwisata Indonesia untuk SMA/SMK/Aliyah se-Jakarta 2012
Tema:
“Kenali Negerimu, Cintai Negerimu”
Syarat Peserta Lomba:
- Usia 15-18 tahun
- Terdaftar sebagai peserta didik Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA)
- Melampirkan fotokopi Kartu Pelajar dan biodata
Syarat Teknis:
- Menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar (EYD)
- Minimal 1000 – 1500 kata
- Menggunakan huruf Arial 12pt, spasi 1.5
- Merupakan karya tulis sendiri
Topik Karya Tulis:
- Peran Generasi Muda dalam Pariwisata
- Pentingnya Pariwisata bagi Indonesia
- Pariwisata dan Lingkungan Hidup
- Dampak Pariwisata dalam Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat
Hadiah:
Piagam penghargaan, uang tunai, dan hadiah hiburan bagi 6 (enam) pemenang
Batas Waktu:
31 Agustus 2012
Pengumuman Pemenang:
20 September 2012 di www.parekraf.go.id
Pengiriman naskah melalui pos ke alamat:
PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEBIJAKAN KEPARIWISATAAN KEMENTERIAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF
Gedung Sapta Pesona
Jl. Medan Merdeka Barat No. 17, Lantai 21, Jakarta Pusat
E-mail: karyatulis.parekraf@yahoo.co.id
Karya Sang Juara di Galeri Nasional Jakarta
Teks & foto : Ifan F. Harijanto
Jakarta – Galeri Nasional Jakarta saat ini sedang melangsungkan pameran “Karya Sang Juara”, sebuah pameran seni rupa yang diselenggarakan oleh Yayasan Seni Rupa Indonesia. Pameran ini diikuti oleh seniman yang karyanya terpilih sebagai ‘sang juara’ dalam kompetisi seni rupa yang juga diadakan oleh Yayasan Seni Rupa Indonesia. Sampai tanggal 27 Juli 2012, karya-karya ‘pemenang’ (juara) 53 seniman akan ditampilkan, antara lain: Soenaryo, Tisna Sanjaya, Nasirun, I Wayan Sujana Suklu, dan masih banyak lagi karya seniman lainnya yang karyanya kebanyakan sudah menjadi koleksi pribadi dari beberapa kolektor.

Memasuki ruang pameran di Gedung A, para pengunjung akan disambut oleh karya seni rupa Astari berjudul “Armors for Soul“ (2011), yang berupa patung-patung wanita yang mengenakan gaun warna perak dan berbagai macam bunga di dadanya seakan menyambut para pengunjung sebagai ucapan selamat datang.
Berjalan ke arah bagian dalam mengikuti petunjuk arah yang sudah disiapkan, pengunjung akan disuguhkan karya-karya sang juara yang memang sangat memukau untuk dilihat dan dinikmati. Keanekaragaman karya yang ditampilkan membuat para pengunjung betah untuk mengamati setiap karya yang tertempel di dinding ruang pamer.

Salah satu yang menarik adalah di ruang tengah yang salah satu dindingnya terpampang lukisan Pak Harto (The Smiling General) yang dibuat oleh Soenaryo. Di atas kanvasnya terdapat penambahan tipografi sebuah pesan jawa yang sangat terkenal, ditulis oleh Sosrokartono. Lukisan yang kini menjadi koleksi pribadi keluarga Cendana serta dimiliki oleh Mbak Titiek ini hanya dipamerkan dan tidak dijual. Sementara itu ada beberapa lukisan lain yang memang dijual dengan kisaran harga terendah 10 juta rupiah dan tertinggi 500 juta rupiah.
Memasuki ruangan yang lebih dalam lagi, pengunjung bisa berfoto bareng dengan patung Gus Dur karya seniman Wilmar Syahnur yang berjudul “Duduk Bersama Gus Dur” (2012). Patung Presiden RI ke-4 ini dibuat dari acrylic on resin dengan skala 1:1, dan membuat siapa pun yang duduk berfoto di kursi yang sama dengan patung Gus Dur ini seperti nyata berfoto dengan Gus Dur yang asli.

Perpaduan berbagai macam karya di pameran “Karya Sang Juara”, menjadikan pameran ini bukan hanya melihat hasil akhir dari sebuah pembuatan karya seni rupa, namun lebih kepada mencari dampak yang dapat ditimbulkan dari sebuah karya. Sehingga pesan yang dimaksud seorang seniman dalam pembuatan karyanya bukan sekedar dinikmati oleh mata, namun bisa sampai ke hati sanubarinya.
Dalam sambutan tertulisnya, Rizki A. Zaelani dari Yayasan Seni Rupa Indonesia menyebutkan baginya, karya-karya yang dipamerkan ini bisa menyegarkan lagi ingatan pada semacam “trend” perkembangan seni rupa pada masa tertentu, sekaligus menegaskan catatan penting berkaitan dengan konteks persoalan sosial budaya yang dikandung oleh sebuah karya seni. Karya-karya baru yang dipamerkan seniman itu kini menunjukkan perkembangan atau pendalaman sikap kepedulian dan pandangan masing-masing seniman terhadap perubahan persoalan-persoalan kehidupan masa kini. Dengan cara mereka masing-masing, para seniman menyingkap tabir pengalaman hidup dalam simbol dan tanda artistik yang mengandung makna-makna. Tema persoalan yang dinyatakan karya-karya ini menunjukkan kaitan persoalan yang bersifat personal sekaligus juga sosial, merefleksikan secara subtil berbagai perubahan yang berlangsung dalam masyarakat dan kebudayaan kita dewasa kini.

Karya seni apapun ketika bisa menyampaikan pesan dan makna yang terkandung di dalamnya dianggap sebagai “juara”. Para seniman yang mencoba menyampaikan pesan melalui simbol-simbol yang terkandung di dalam karyanya merupakan sebuah olah pikir dan rasa yang tidak bisa digambarkan secara harfiah ketika karya tersebut sedang dibuat, namun akan menjadi bermakna ketika karya tersebut mendapat tempat dan direspon serta diapresiasi oleh masyarakat umum. (*)
Pengembangan AR Karya Anak Bangsa
Teks: Sharifa Ainie | Foto: Sharifa Ainie & dokumentasi
Jakarta- Pernahkah anda memakai sebuah kacamata yang ketika dipakai menampilkan banyak menampilkan informasi, entah itu profil seseorang atau keadaan sebuah kota? Tampaknya kacamata tersebut hanya bisa kita lihat dari sebuah film dan kalau pun ada, pasti harganya sangat mahal.

Anda akan bisa segera memilikinya dengan harga terjangkau, karena sebuah perusahaan bernama Augmented Reality & Co (AR&Co.) sebentar lagi akan mengeluarkan kacamata yang berbasis Augmented Reality (AR). Hal tersebut dikatakan langsung oleh Peter Shearer, Managing Director AR&Co. pada konferensi pers penyelenggaraan Augmented Reality and Technology Xperience (ARTX) 2012 di Kampus Anggrek, Universitas Bina Nusantara, Jakarta, Jumat (15/6) kemarin.
“Saya sendiri sebenarnya bekerjasama dengan perusahaan (asal) Perancis yang akan me-launcing kacamata augmented reality, (peluncurannya) masih confidential project, tapi hopefully, soon. Jadi, dengan adanya kacamata yang berbasis augmented reality ini diharapkan kita akan menjualnya secara retail, di mana semua orang bisa beli dengan harga yang cukup terjangkau, tidak lebih mahal dari iPad, biar semua orang bisa memakai,” tutur Peter.
Event yang bertema ‘Asia’s First Augmented Reality Event’ ini diselenggarakan pada 15-16 Juni 2012, dan terdiri dari pameran, seminar, dan kompetisi AR. Melalui pameran, pengunjung dapat merasakan sendiri implementasi dari teknologi AR dalam berbagai bidang. Kemudian ada seminar yang diadakan pada 15 Juni 2012 membahas mengenai implementasi AR dan prospek ke depannya di Indonesia. Sementara itu kompetisi AR untuk pelajar SMA/SMK dan mahasiswa diadakan untuk mendorong para peserta untuk mengembangkan aplikasinya sekreatif mungkin, tanpa batasan dan tema.
“Sebagai pelaku industri digital, kami ingin memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai perkembangan teknologi Augmented Reality di Indonesia serta pemanfaatannya secara luas di berbagai bidang. AR&Co. sebagai salah satu pionir pengembang teknologi AR di Indonesia sangat bangga bisa memperkenalkan berbagai produk AR karya anak bangsa,” ungkap Peter.

AR sebenarnya sudah ada sejak tahun 1950, namun perkembangannya baru pesat di tahun 2009, dan AR&Co. Sampai saat ini, kebanyakan pemakaian AR di Indonesia masih digunakan sebagai sara promosi dan iklan brand tertentu, ke depannya teknologi ini diharapkan dapat dikembangkan ke berbagai hal seperti pendidikan, informasi lokasi, dan kegiatan komersial seperti informasi tempat dan lingkungan ataupun info diskon dan belanja.
Karya Hebat Berasal dari Ide yang Brilian
Teks dan foto: Sharifa Ainie
Jakarta- “The Genius Machine: Turn Raw Ideas into Brilliance”, itulah yang menjadi tema dalam konvensi kedua Indonesian Contemporary Art & Design (ICAD) 2012. Dalam konvensi yang diadakan di Grandkemang Hotel pada Jumat (18/5) lalu, tiga orang yang dianggap jenius dengan ide-ide briliannya berbagi pengalaman dengan para hadirin yang datang malam itu. Mereka adalah Samuel A. Budiono (arsitek & komposer musik), Oscar Lawalata (fashion designer), dan Sir Dandy (musisi dan desainer).
Masing-masing dari ketiga pembicara tersebut mempunyai nilai atau makna dari tiap karyanya. Seperti yang diungkapkan Samuel A. Budiono tentang kejujuran dalam karyanya, bahwa kejujuran itu sesuatu yang tidak bisa direkayasa. Dalam setiap profesi harus memiliki 3 unsur yaitu passion, menemukan elemen, dan bagaimana membangun visi. Kalau ketiganya dipegang erat oleh para profesional, maka diyakini akan menuai kesuksesan yang dilakukan dari dalam (hati), yaitu jujur dengan apa yang menjadi passion kita.
Dari kejujuran yang menjadi modal Samuel, ternyata itu juga yang menjadi ide setiap karyanya, baik itu karya arsitektur maupun karya musiknya. “Prinsip saya, composing in architecture is like designing in music. Itu yang menjadi passion saya,” ucapnya.
Sementara itu, Oscar Lawalata yang sangat menyenangi budaya Indonesia, dinilai mempunyai makna kelembutan dalam setiap karya-karyanya yang mengangkat budaya Indonesia. Untuk itu, kepekaan seorang Oscar Lawalata terus diasah dalam melihat kekayaan budaya Indonesia agar menjadi ide dalam setiap karyanya yang fantastis.
“Jadi saya melihat antara teknologi, antara soul kita sendiri, dan keadaan dunia ini seperti apa (agar bisa diterima semua orang), itu yang harus dicerna. Karena kalau bicara desain, kita (budaya Indonesia) sudah kaya banget. Semua disini saya rasa punya talenta untuk mendesain, tetapi era sekarang ini adalah era persaingan teknologi, dan semua itu kita harus pintar-pintar,” jelas Oscar.
Berbeda dengan Samuel dan Oscar, Sir Dandy yang dikenal nyentrik mempunyai nilai keberanian dalam setiap idenya yang ia olah sendiri menjadi sebuah karya. Karena menurutnya keberanian itu adalah masalah yang sangat basic sekali, di mana semua orang ia yakini mempunyai ide-ide yang brilian, yang ingin melakukan sesuatu yang terbaik untuk dirinya. Untuk itu, ia coba terapkan nilai keberanian tersebut terhadap dirinya sendiri. Ia yakin bahwa ide-ide itu bagus jika dijadikan karya atau sesuatu.
“Saya bikin band walaupun saya nggak bisa nyanyi, tapi saya ingin melepaskan energi-energi negatif dalam diri saya. Saya tuh orang yang banyak mau tapi kemampuannya sedikit, dan saya nggak takut menjalaninya, jadi saya nekat saja,” ucapnya yakin.
Dengan semboyan band-nya “Skill is Dead”, itu yang menjadi motivasi bahwa tidak mempunyai skill belum tentu tidak bisa berkarya. Terbukti band yang dijalani Sir Dandy dan teman-temannya itu menghasilkan album dan beberapa prestasi dengan mengisi sebuah soundtrack dari film Janji Joni, juga di-endorse oleh sebuah clothing brand ternama.
Konvensi kedua dalam rangkaian acara ICAD 2012 pada malam itu berlangsung menarik dengan bincang-bincang seru dan tanya jawab dengan para hadirin. Tidak lupa juga penampilan Sir Dandy yang memberanikan diri untuk menyanyikan sebuah lagu ciptaannya sendiri dengan lirik-lirik yang membuat para penonton tertawa, dan juga permainan keyboard Samuel A. Budiono yang berduet dengan petikan gitar Sonny Suhendra.
Pameran ICAD 2012 masih berlangsung sampai dengan 15 Juni 2012 mendatang di grandkemang Hotel, dan masih ada konvensi terakhir yang diadakan pada 1 Juni 2012 nanti. Info lengkapnya, kunjungi www.icad2012.com.



