ART|JOG|12: Pengalaman Kreatif Ashley Bickerton
Teks: Jaya Liem | Foto: dokumentasi ARTJOG12
“Mengundang seorang seniman untuk hadir di art fair adalah sama dengan mengundang seorang anak untuk hadir di dalam kamar saat orang tuanya sedang berhubungan intim.”
Demikian ungkapan yang dikutip oleh Enin Supriyanto saat membuka acara Artist Talk ART|JOG|12 yang dilaksanakan di Gedung Societet Militer, Taman Budaya Yogyakarta, pada hari Minggu tanggal 15 Juli 2012.

Namun seiring dengan perkembangan art fair belakangan ini, dan juga pasar seni rupa, kondisi itu mulai berubah. Art fair perlahan menjadi ajang untuk bertemu, belajar, dan membangun jaringan. Para seniman tidak sungkan lagi untuk hadir di sebuah art fair. Hal ini dapat dilihat di ART|JOG, khususnya pada malam pembukaan, di mana para seniman, pemilik galeri, kolektor, dan pekerja seni lainnya tampak asyik bercengkerama. Hal ini terjadi seiring dengan bergesernya batas-batas antara art fair dan balai lelang.
Sebelum membuka acara sore itu, Enin Supriyanto sebagai moderator acara meminta panitia untuk memutar rekaman video dari Wim Delvoye yang tidak bisa hadir. Rekaman video tersebut malam sebelumnya juga diputar saat pembukaan ART|JOG|12, untuk mewakili Wim yang seharusnya hadir dan membuka perhelatan. Dalam rekaman video yang diputar, Wim meminta maaf kepada panitia ART|JOG|12 karena ia tidak dapat hadir diakibatkan penerbangan yang telah dipesannya mengubah jadwal, dan ia tidak bisa mendapatkan penerbangan lain untuk bisa hadir pada saat acara. Dalam rekaman video itu, Wim juga mengucapkan terima kasih kepada panitia dan berharap akan diundang kembali dalam acara berikutnya.
Jadilah Ashley Bickerton, seniman kelahiran Barbados yang sejak tahun 1993 menetap di Bali, sebagai satu-satunya seniman yang berbagi pengalamannya sore itu. Ashley bercerita tentang awal karir kesenimanannya yang dimulai di New York pada tahun 80-an, sambil memperlihatkan foto-foto karyanya melalui layar proyektor. Pada masa itu, Ashley hanya melukis, dan lukisannya memiliki tingkat presisi yang sangat tinggi. Untuk menghasilkan lukisan seperti itu, Ashley bekerja 18 jam sehari dan kadang melewatkan dua purnama untuk menyelesaikan satu lukisan. Dengan kualitas lukisan seperti itu, Ashley bersama-sama dengan Peter Halley, Meyer Vaisman dan Jeff Koons memulai gerakan Neo-Geo dan bersama-sama mereka dijuluki sebagai The Fab Four. Karya-karya mereka menjadi menonjol karena saat itu skena didominasi oleh karya-karya Neo-Expressionist.
Namun Ashley kemudian merasa bodoh ketika melihat lukisan-lukisannya yang hampir menyerupai foto dan waktu yang dihabiskannya untuk membuatnya. Dari sanalah kemudian ia beralih ke fotografi dan memanfaatkan perangkat lunak PhotoShop. Ashley membuat seri foto-foto close-up detil dari modelnya yang kemudian dimanipulasi dan digabungkan menjadi satu. Sebelum difoto, Ashley menorehkan lapisan cat ke tubuh dan pakaian model-modelnya. Foto yang telah dimanipulasi dan digabung lalu dicetak di kanvas untuk kemudian dilukis lagi dengan lapisan cat.

Setelah tinggal di Bali, Ashley mulai tertarik dengan ukiran kayu Bali. Karya-karyanya mulai diberi bingkai lebar dari ukiran yang juga ditempeli berbagai benda-benda kecil. Bidang kanvas juga mulai dilubang-lubangi. Di sini lukisan dengan bingkainya berelaborasi menjadi satu kesatuan yang saling mendukung.
Semakin lama cat atau make up yang diaplikasikan ke model-modelnya semakin tebal dan brutal, perlengkapan dan perhiasannya juga semakin tidak nyata. Efek keseluruhan yang dihasilkan menyerupai pelukis yang brutal dan emosional, namun akhirnya masih bisa disatukan oleh kedinginan fotografi. Hal inilah yang kemudian membuat Ashley memutuskan untuk tidak menggunakan model manusia lagi dan membuat modelnya sendiri dari tanah liat. Model tersebut juga diberi cat tebal dan berbagai perlengkapan beserta hiasan kemudian difoto.
Dengan membangun subjek fotografinya sendiri, Ashley bisa mengarahkan lebih jauh citraan fotografi dari kenyataan yang bisa dikenal, seraya mendorong celah yang makin dalam antara yang dilukis dan yang difoto. Foto yang dicetak di kanvas itu juga diperlakukan beda. Sebelumnya Ashley melukis semua bidang kanvas dengan lapisan cat tipis untuk menciptakan sejenis ilusi optik yang halus dan harmonis. Saat ini yang dilukis hanya bagian tertentu dengan lapisan cat tebal untuk menciptakan wacana pertentangan optik antara tetesan cat tebal yang asli dan tetesan cat tebal yang direproduksi. Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, Ashley juga memutar rekaman video tentang bagaimana ia berkarya dan menghasilkan karya-karya yang merupakan hibrida dari seni lukis, fotografi, dan seni patung.
Sesi berikutnya kesempatan diberikan kepada Wang Zineng dari Rumah Lelang Christie’s yang diundang sebagai penanggap. Sebelum Zineng memberikan tanggapan, Enin menginformasikan hasil percakapannya dengan Zineng sebelum acara dimulai, yaitu bahwa saat dari semua karya seni yang ditawarkan oleh Christie’s Hong Kong, 60 persennya adalah karya seniman Indonesia. Demikian juga penjual dan pembeli dari Indonesia yang mendominasi pasar Christie’s Hong Kong dengan angka persentase yang sama.
Zineng memulai tanggapannya dengan memperlihatkan karya Ashley Bickerton, Adrien Jean Le Mayeur, Indieguerillas, dan Entang Wiharso. Dari karya seniman-seniman itu, Zineng kemudian mengupas secara singkat mengenai kesamaan dan kekuatan dari karya-karya itu, yaitu sering memvisualkan ikon-ikon kebudayaan lokal. Menurut Zineng, muatan itulah yang membuat karya mereka berbeda dalam dunia seni saat ini. Mungkin lokalisasi kebudayaan inilah yang akan menjadi DNA dari seni rupa kontemporer Asia.

Penanggap berikutnya yang juga dihadirkan adalah Nicola Trezzi, editor majalah Flash Art. Mengenai pertanyaan Enin perihal posisi seni rupa Asia yang sempat diabaikan dan susah mendapatkan tempat dalam seni rupa dunia , Nicola mengatakan bahwa Eropa dan Amerika sentris dalam seni rupa hanyalah fiksi, bukan hal yang benar-benar terjadi. Bagi Nicola, hal itu hanya sesuatu yang dibuat-buat untuk dipercayai. Bahwa kemudian hal itu ada, ia tidak peduli tentang itu. Sebagai contoh, dalam majalah Flash Art ada bagian khusus yang membahas tentang seniman Asia. Namun ketika membicarakan tentang Yayoi Kusama atau pun almarhum Nam June Paik, hal ini akan menjadi kabur karena kedua seniman ini lebih sering berada di luar Asia dan tidak bisa benar-benar dikategorikan sebagai seniman Asia.
Kenyataan bahwa tidak adanya pemusatan semakin jelas, ketika pemilik Art Basel di Swiss, art fair terbesar dan paling bergengsi di dunia, menjadi pemegang saham mayoritas ART HK tahun lalu dan ikut berkolaborasi dalam menyelenggarakan ART HK 12 di Hong Kong bulan Mei lalu. Satu dekade sebelumnya Art Basel juga menginisiasi Art Basel Miami di Miami, Florida, Amerika Serikat. Dengan demikian, Hong Kong, dalam hal ini Asia diposisikan sama pentingnya dengan Eropa dan juga Amerika.
Menanggapi soal Ashley Bickerton yang pindah dan berkarya di Bali dari New York yang merupakan salah satu kota pusat seni rupa dunia, Nicola mengatakan bahwa saat ini banyak sekali seniman yang merelokasi diri ke tempat lain untuk berkarya seperti: Francis Alÿs, seniman dari Belgia yang pindah ke Meksiko; Paolo Pivi, seniman multimedia dari Italia yang pindah ke Alaska; dan Santiago Sierra, seniman kelahiran Meksiko yang saat ini hidup di Madrid, Spanyol. Pergerakan seniman-seniman itu adalah untuk kepentingan berkarya di mana mereka bisa menemukan konteks untuk karya mereka. Bagi Nicola, hal itu adalah sesuatu yang masuk akal ketimbang seniman yang pindah ke New York untuk mencoba meraih kesuksesan.
Di akhir acara, Ashley mengatakan dia sering mendapatkan pertanyaan mengenai karya-karyanya yang tidak berbau Indonesia, walaupun dia telah tinggal di Bali lebih dari 13 tahun. Ashley sering dibandingkan dengan Paul Gauguin, dalam hal sebagai orang Barat yang pindah ke tempat eksotik, yang lalu membuat karya-karya figuratif yang berwarna-warni dengan nuansa erotik. Ashley mengatakan, karyanya tidak harus berhubungan dengan tempat dia tinggal. Walaupun hidup di Bali, dia tidak harus melukis wayang, penari bali, dan hal-hal eksotik lainnya. Dengan mengisolasi diri dari hiruk-pikuk dunia (Barat), ia bisa melihat lebih dan melontarkan kritik yang lebih tajam tentang budaya Barat, ia bisa jauh lebih vulgar dan lebih dari bajingan kecil internasional.(*)
Berita Terkait