Andi Rharharha: Penggiat Tape Art di Indonesia
Teks/Editor: Intan Larasati | Foto: Ria Pitaloka

Jika Anda sempat datang ke Pameran Produk Kreatif Indonesia (PPKI) 2012 November lalu, mungkin Anda memperhatikan motif warna-warni yang ada di pavement Epicentrum Walk. Motif warna-warni itu merupakan salah satu turunan seni jalanan (street art) yang dinamakan “tape art”. Disebut tape art karena menggunakan tape alias lakban untuk membentuk gambar atau pola tertentu. Aliran seni ini biasanya cenderung mudah dimengerti karena sifatnya yang playful.
Tape art di PPKI 2012 lalu ini tercatat di rekor Museum Rekor Dunia Indonesia sebagai tape art terpanjang, yaitu 570 meter dengan menghabiskan 3400 gulung. Motifnya sendiri menggambarkan tujuh motif tradisional daerah dan 15 motif permainan tradisional daerah. Sebagai perwakilan dari timnya untuk menerima penghargaan, tampil Andi Rharharha, yang juga merupakan salah satu penggiat tape art. Berikut sepenggal perbincangan Indonesia Kreatif dengan Andi Rharharha.
Sejak kapan mulai menekuni street art? Dan mulai kapan tertarik pada tape art? Mengapa?
Street art mulai tahun 2000-an. Kalau tape art baru mulai sekitar tahun 2007. Kenapa ya? Awalnya sih iseng-iseng aja. Sekadar eksperimentasi.
Apa yang membedakan tape art dengan jenis seni lainnya?
Yang paling jelas sih medianya. Tape art itu menggunakan lakban. Di Indonesia, seni ini belum banyak dieksplorasi.
Bagaimana awal keikutsertaan Andi dan tim untuk membuat tape art di PPKI 2012?
Keikutsertaan kami di sini awalnya lewat jejaring organik rekomendasi teman. Karena itu juga, kami akhirnya berhasil mendapat penghargaan dari Museum Rekor.

Bagaimana PPKI menurut Andi?
Cukup bagus ya. Saya suka idenya yaitu diselenggarakan oleh 17 instansi pemerintahan. Saya sih cuma usul, kalau bisa di tahun-tahun selanjutnya PPKI bisa diselenggarakan di berbagai daerah di Indonesia secara berkeliling. Jadi bukan hanya di Jakarta saja.
Keluarga mendukung bidang yang ditekuni Andi sekarang?
Saya beruntung punya keluarga yang selalu mendukung. Pada intinya mereka memberi kebebasan terhadap apa pun yang saya kerjakan, asal bisa membuktikan. Bentuk dukungannya mungkin doa, kali ya? Hahaha.
Street art di Indonesia menurut Andi?
Perkembangannya sangat pesat ya. Sekarang ini generasi usia 10 tahun sudah terjun ke jalanan membuat grafiti. Ini penting, karena merupakan tanda bahwa street art telah menjadi budaya populer. Saya sendiri mendirikan ISAD (Indonesian Street Art Database) sebagai upaya kerja inisiatif jejaring komunitas street art yang fokus dalam kegiatan mendokumentasikan dan mengarsipkan aktivitas street art di Indonesia. Salah satu kegiatan kami adalah menelusuri bukti-bukti bahwa street art merupakan bagian dari sejarah perjalanan bangsa ini, yaitu sebagai salah satu alat propaganda perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia.
Siapa yang jadi referensi atau panutan Andi dalam berkarya?
Saya suka Irwan Ahmett. Dia itu salah satu seniman yang selalu mengintervensi ruang publik. Project-nya sendiri selalu terkesan sedang bermain, tapi sambil mengkritisi kondisi kota.

Pendapatnya tentang perkembangan ekonomi kreatif di Indonesia?
Ekonomi kreatif Indonesia itu awalnya dibangun di akar rumput oleh semangat D.I.Y (do it yourself –Red). Mulai dari produksi dan distribusi, semuanya dikerjakan sendiri. Pemasarannya dilakukan melalui komunitas. Pada akhirnya membentuk sebuah jejaring organik yang kuat.
Ada pesan dan masukan bagi pemula yang ingin menekuni street art?
Silakan terjun langsung ke ruang kota, pahami ruang dan segala permasalahan sosialnya, lalu silakan beraksi dengan soulfull.
http://andytidjels.blogspot.com/ | Twitter @RHARHARHA | www.indonesianstreetartdatabase.org
Festival Film Solo 2013

Festival Film Solo merupakan festival film tahunan yang fokus pada perkembangan film-film fiksi-pendek Indonesia, melalui program-program kompetisi maupun non-kompetisi dan forum. Festival Film Solo mempercayai bahwa film pendek dan komunitas film adalah salah satu penggerak utama perfilman tanah air.
Festival kali ini pertama diinisiasi oleh Ricas Cwu, Bayu Bergas, dan Joko Narimo pada tahun 2011. Dihelat pada bulan Mei setiap tahunnya di Kota Solo, Jawa Tengah, dan dimaksudkan sebagai salah satu ruang temu yang akrab, sederhana, ramah, dan terbuka luas bagi para penonton dan pelaku perfilman nasional.
Penghargaan tertinggi di kompetisi dalam Festival Film Solo adalah Ladrang Award untuk Kategori Umum-Nasional, dan Gayaman Award untuk Kategori Pelajar-Nasional. Penghargaan tersebut mewujud dalam bentuk Keris Pusaka Ladrang dan Keris Pusaka Gayaman, yang ditempa secara khusus oleh Empu Yohanes Yantono.
Kompetisi Ladrang 2013
Program Kompetisi Film Fiksi-Pendek-Indonesia Kategori Umum-Nasional. Pendaftaran film peserta dibuka mulai 5 Januari hingga 5 Maret 2013.
Untuk info ketentuan dan formulir pendaftaran Kompetisi Ladrang, silakan klik di sini. Untuk info juri Kompetisi Ladrang, silakan klik di sini.
Kompetisi Gayaman 2013
Program Kompetisi Film Fiksi-Pendek-Indonesia Kategori Pelajar-Nasional. Pendaftaran peserta dibuka mulai 5 Januari hingga 15 Maret 2013.
Untuk info ketentuan dan formulir pendaftaran Kompetisi Gayaman, silakan klik di sini. Untuk info juri Kompetisi Gayaman, silakan klik di sini.
Pendanaan Film 2013/2014
Program Pendanaan Produksi Film Fiksi-Pendek-Indonesia melalui metode pitching forum. Anda dapat mendaftar mulai tanggal 15 Januari 2013.
Teater Besar ISI Surakarta & Taman Budaya Jawa Tengah, 1-5 Mei 2013
Festival Film Solo berlangsung di Kota Solo atau Surakarta, Jawa Tengah, yang dikenal dengan masyarakatnya yang ramah dan akrab. Luas wilayahnya yang mencapai 44,04 km2 didiami sebanyak 536.498 jiwa, yang tersebar di lima kecamatan: Laweyan, Serengan, Pasar Kliwon, Jebres, dan Banjarsari. Terletak di antara 110 45’ 15” – 110 45’ 35” Bujur Timur dan 70’ 36” – 70’ 56” Lintang Selatan, Solo merupakan cekungan lereng Pegunungan Lawu dan Pengunungan Merapi dengan ketinggian sekitar 92m di atas permukaan laut dan dibelah oleh tiga buah sungai besar: Bengawan Solo, Jenes, dan Pepe.
Di sebelah utara, Solo dibatasi oleh Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Boyolali. Batas wilayah timur adalah Kabupaten Sukoharjo dan Kabupaten Karanganyar. Batas wilayah sebelah barat adalah Kabupaten Sukoharjo dan Kabupaten Karanganyar. Sedangkan batas wilayah selatan adalah Kabupaten Sukoharjo. Solo beriklim tropis dengan suhu udara maksimum adalah 32,5 derajat Celcius, sedang suhu udara minimum adalah 21,9 derajat Celcius. Rata-rata tekanan udara 1010,0 MBS dengan kelembaban 75%. Kecepatan angin 4 Knot dengan arah angin 240 derajat.
Solo dikenal pula sebagai salah satu surga kuliner. Tak heran, banyak dari Anda yang selalu rindu pada Sate Buntel, Nasi Liwet, Timlo, dan berbagai masakan lain. Tak perlu khawatir ikhwal penginapana. Anda, baik yang berkantung tebal maupun yang pura-pura berkantung tipis, memiliki banyak pilihan hotel di sini. Jalur transportasi pesawat udara, kereta api, bus, dan kendaraan lainnya selalu terbuka dari kota Anda. Segeralah catat Festival Film Solo yang akan berlangsung pada 1-5 Mei 2013 mendatang sebagai agenda wajib Anda dan orang-orang terdekat. Mari berfestival! Mari, Mei ke Solo!
Sumber: festivalflmsolo.com
Inilah Pemenang Kontes Foto Header Facebook Indonesia Kreatif
Teks/Editor: Intan Larasati
Pada tanggal 2-8 Januari 2013, telah dilangsungkan kontes foto header Facebook Indonesia Kreatif. Kontes foto ini bertema “Bangunan Arsitektur Khas Indonesia” dan telah berhasil memilih sebanyak 8 pemenang. Berikut nama-nama pemenang (sesuai urutan alfabet):
1. Annas Hendarsyah – Bogor
2. Danang Saparudin – Jakarta Selatan
3. Dyah Eka Atmaningrum – Jatinangor, Sumedang
4. Moh. Ansari – Denpasar
5. Muhammad Yunus – Sumatera Utara
6. Okto Ahadi – Bogor
7. Wira Nurmansyah – Bandung
8. Yunaidi Joepoet – Jakarta Selatan




Foto pemenang akan dipasang sebagai cover foto fanpage Indonesia Kreatif secara bergantian, masing-masing selama 1 (satu) minggu penuh. Selain itu, pemenang juga akan mendapatkan goodie bag dari Indonesia Kreatif.
Selamat pada para pemenang. Jangan lupa kunjungi dan ‘like’ Facebook Indonesia Kreatif di facebook.com/indonesiakreatif.
Surakarta Kota Kreatif di Indonesia, Bagaimana dengan Kota Lainnya?
Teks & Foto: Early Rahmawati | Editor: Intan Larasati

Tukang becak siap mengantar berkeliling Kampung Batik Kauman.
Terhitung sejak bulan Desember 2012, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) telah menetapkan Kota Surakarta sebagai kota kreatif di Indonesia. Hasil keputusan ini kemudian diusulkan ke UNESCO untuk ditetapkan dan masuk dalam jaringan kota kreatif dunia. Pengesahan Kota Surakarta sebagai kota kreatif akan dikukuhkan pada bulan Februari 2013 yang bisa jadi bertepatan dengan perayaan ulang tahun Kota Surakarta yang ke-268.
Sebagaimana yang telah banyak kita ketahui bersama, Kota Surakarta telah berbenah dan maju dengan demikian pesat dengan berbagai kegiatan budaya sejak dipimpin oleh Joko Widodo (kini Gubernur DKI Jakarta) yang menjabat sebagai walikota sejak tahun 2005 hingga 2012. Kota Surakarta atau yang juga dikenal sebagai Kota Solo, mempunyai banyak sekali bangunan maupun budaya bersejarah termasuk kain tradisional batik, dan merupakan bagian dari Kerajaan Mataram di masa lalu, yang akhirnya terpecah menjadi dua kesultanan: Pakubuwono dan Mangkunegaran.
Pengaruh adanya dua keraton di Kota Solo membuat kota ini selalu penuh dengan nuansa budaya yang dibangun oleh para keluarga keraton, maupun para abdi dalem yang kemudian hari menyebar ke masyarakat. Bertahun-tahun setelah kemerdekaan, Solo tetap menjadi salah satu barometer budaya masyarakat Jawa, meski dari sisi pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah daerah ternyata tidak begitu menggembirakan dan kurang dapat dirasakan oleh masyarakatnya. Baru setelah dipimpin oleh Jokowi tahun 2005, Kota Solo kembali berbenah. Dengan bantuan beberapa lembaga asing yang tertarik dengan gebrakan Jokowi yang mengusung transparansi dalam pemerintahannya dan pola pendekatan pembangunan ke masyarakat secara lebih manusiawi, Solo pelan-pelan mulai lebih dikenal orang, tidak hanya di Jawa Tengah atau Indonesia, tetapi hingga mancanegara.

Turis melintas di Ngarsopuro.
Kota ini akhirnya mencanangkan ‘Solo di Masa Depan adalah Solo Masa Lalu’ di mana mulai dilakukan berbagai pembenahan dan pengembalian fungsi berbagai lokasi peninggalan keraton yang sempat dimanfaatkan masyarakat tidak pada tempatnya, misalnya Taman Balekambang menjadi arena rekreasi masyarakat lokal. Berbagai festival kelas dunia pun mulai digelar, seperti Solo International Performing Arts (SIPA), Solo International Ethnic Music (SIEM), dan yang paling terkenal adalah Solo Batik Carnival (SBC) yang digelar sejak tahun 2008 lalu. Awalnya SBC belajar dari pengalaman penyelenggaraan Jember Fashion Carnival (yang bahkan sudah lebih dulu mendunia), namun ternyata SBC-lah yang terpilih mewakili Indonesia dalam parade internasional, dan menjadi pemenang Piala Presiden dalam Parade Bunga Mawar ke-124 di Pasadena, California.
Di samping itu, masih banyak lagi gebrakan bernuansa budaya di kota ini yang akhirnya menumbuhkan iklim kreatif masyarakatnya, dan diapresiasi serta ditiru oleh kota lain. Seperti pelaksanaan Car Free Day (CFD) setiap Minggu pagi (kala itu kota-kota lain baru berani mencanangkan CFD setiap hari Minggu sebulan sekali atau dua bulan sekali) yang diisi dengan berbagai kegiatan seni selain olah raga bersama para warga. Juga memulai adanya Car Free Night di malam pergantian tahun dari 2011 ke 2012. Akhirnya acara ini diadopsi pula oleh kota-kota lain pada malam pergantian tahun 2012 ke 2013, seperti oleh Jakarta, Denpasar, Bandung, Jogja, Makassar, dan kota-kota lainnya. Acara pawai budaya menjelang tahun baru pun menjadi ajang kreativitas para komunitas yang tumbuh di kota-kota tersebut. Secara tak langsung Solo telah menjadi ‘guru’ bagi pelaksanaan banyak kegiatan yang melibatkan komunitas, meskipun kita tahu bahwa Bandung dan Jakarta atau kota-kota lain pun sebenarnya sudah pula memulai melaksanakan kegiatan mirip yang mendorong para anggota komunitas kreatif untuk lebih unjuk gigi di tengah masyarakat lokalnya.

Solo City Jazz (2011) di Taman Sriwedari.
Dari pengalaman Solo, kita dapat melihat bahwa sebenarnya kota-kota menengah di Indonesia tidak kalah dengan kota-kota besar lain yang notabene lebih dikenal oleh masyarakat Indonesia. Justru dengan luas wilayah yang tidak begitu luas dan jumlah penduduk yang tidak begitu banyak, pemerintah kota/kabupaten di Indonesia dapat memberikan stimulan yang tepat bagi kelompok komunitas yang ada di wilayahnya, tentunya dengan syarat pemerintah daerah mempunyai komitmen untuk itu. Jika kita bandingkan dengan kota-kota di Italia atau Jerman misalnya, yang cenderung mempunyai budaya yang hampir sama antara kota satu dengan kota lainnya tetapi mampu mengemas dan menata kotanya menjadi menarik untuk dikunjungi, kota-kota di Indonesia jauh lebih ‘kaya’. Dengan beragam budaya yang berasal dari ratusan suku bangsa yang mengembangkan berbagai bentuk kesenian yang berbeda-beda, bangsa kita punya potensi yang sangat besar untuk mengembangkan wisata budaya yang imbasnya tentu dapat menarik wisatawan baik domestik maupun mancanegara.
Untuk saat ini program nyata yang cukup dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat atau pemerintah kota/kabupaten di Indonesia adalah program dari Kemenparekraf, yang telah berupaya untuk membantu kota-kota di Indonesia menjadi lebih menarik dan atraktif. Di samping itu, mereka juga mempunyai agenda tahunan di tingkat nasional seperti Pekan Produk Kreatif Indonesia (PPKI) atau berbagai festival tahunan yang dinilai ‘menjual’ Indonesia, seperti Festival Sail Morotai, Tour de Singkarak, dan lain-lain. Selain itu juga ada program dari Kementerian Pekerjaan Umum yang mengadakan berbagai kompetisi nasional seperti Kompetisi Kota Hijau dan Kota Pusaka, yang ternyata cukup membuat pemerintah kota/kabupaten di Indonesia bersemangat untuk mengembangkan nilai sejarah atau bangunan cagar budaya di daerahnya sebagai bagian dari peningkatan potensi wisata yang sangat ampuh. Seperti Kota Sawahlunto, Kota Buton. Kota Palu, dan sebagainya.

Latihan tari setiap hari Rabu di Pendopo Keraton Mangkunegaran.
Nah, Kota Surakarta telah mengawali pengembangan kotanya menjadi sangat atraktif. Tidak hanya dimotori oleh pemerintah, tetapi juga komunitasnya, seperti Mataya Heritage, Red Batik Solo, Blusukan Solo (yang suka menyelenggarakan acara jalan-jalan menyusuri Kota Solo dengan berjalan kaki), Kelompok Sepeda Onthel (yang sebenarnya juga banyak dimiliki oleh kota-kota lainnya seperti Surabaya, Jakarta, Bandung dan Jogja), Republik Aeng-Aeng, dan komunitas lainnya. Pemerintah yang mampu menyediakan infrastruktur yang memadai untuk tumbuhnya unsur kreatif bagi warganya dan komunitas yang mengusung nilai egaliter di Solo, sangat erat berhubungan untuk bersama-sama membangun kotanya menjadi atraktif dan menarik, sehingga dinobatkan menjadi kota kreatif. Di samping juga adanya Sekolah Menengah Kesenian Indonesia (SMKI), Sekolah Tinggi Seni Indonesia, dan juga perguruan tinggi yang mempunyai jurusan yang merupakan salah satu unsur subsektor dalam ekonomi kreatif, seperti arsitektur dan desain. Kerjasama antar berbagai pihak inilah yang membentuk masyarakatnya mengapresiasi segala bentuk kegiatan atau kreativitas baru yang ditawarkan, sehingga kota menjadi tumbuh dan berkembang secara terus menerus dengan nilai-nilai yang menjaga budaya setempat dan bernuansa lingkungan.
Bagaimana dengan kota-kota (khususnya menengah) lainnya? Kita tunggu kiprahnya membangun bangsa yang kreatif!
Press Release: Architects Under Big 3 #33 Isabella Andjanie

PRESS RELEASE
Architects Under Big 3 #33 Isabella Andjanie
I Brought A Zoo
Kebun binatang merupakan salah satu ruang publik. Sebuah elemen kota yang berfungsi sebagai sarana rekreasi dan edukasi. Selayaknya kebun binatang harus memberikan kenyamanan bagi penggunjungnya. Pada kesempatan ini Bella ingin membagikan pengalamannya dalam merevitalisasi kebun binatang Gembira Loka di Yogyakarta, yang kondisinya sangat memprihatinkan akibat gempa pada tahun 2006.
Sebagai strategi intervensi fisik, Zoological Museum Park, dihadirkan sebagai fungsi baru agar menjadi magnet aktivitas baru dikebun binatang tersebut untuk menyelamatkan dari degradasi dan keterpurukan melalui revitalisasi bertahap. Bagaimana memodifikasi dan mendaur ulang site yang ada sebagai generator penggerak agar kebun binatang Gembira Loka kembali menjadi Primadona.
Tentang Isabella Andjanie :
Isabella Fitria Andjanie, dikenal dengan Bella, lahir di Yogyakarta pada bulan Mei 1989. Ia menyelesaikan studi arsitekturnya di Universitas Gadjah Mada pada tahun 2011. Bella mengambil “Zoological Museum Park pada revitalisasi kebun binatang Gembira Loka di Yogyakarta” sebagai tema tugas akhirnya yang mendapatkan Juara 1 kompetisi karya tugas akhir mahasiswa arsitektur Indonesia ke VIII yang diadakan ITS (Institut Teknologi Sepuluh November) (2012), dan diikut sertakan dalam pameran Indonesian Public Exhibition 2012 di Den-Haag yang diadakan oleh Archicentrum dan IAI-EU. Bella pernah bekerja di PDW Architects (2011-2012). Saat ini Bella bekerja di Belt Collins, Bali.
Tentang Architects Under Big 3:
Architects Under Big 3 (AUB3) diselenggarakan pada hari Jumat pertama tiap bulan yang dibawakan oleh arsitek muda usia dibawah 30 tahun. Dalam kegiatan ini arsitek muda diberi kesempatan untuk mempresentasikan karya arsitektur beserta pemikiran mereka pada publik melalui presentasi non formal yang diteruskan dengan diskusi santai. Bertempat di Danes Art Veranda, peserta diberi kebebasan untuk memilih ruangnya sendiri -di halaman, dek, rooftop, galeri- dimanapun tempat dimana mereka rasa paling nyaman untuk berbagi cerita dengan pendengarnya. Melalui pendekatan ini, arsitek muda beserta ide dan karya arsitekturnya berkesempatan untuk mendapatkan ruang berkomunikasi dengan khalayak yang lebih luas, baik khalayak awam arsitektur maupun khalayak arsitektur.
Nama Kegiatan : Architects Under Big 3
Edisi : 33
Jenis Kegiatan : Presentasi dan Diskusi
Pembicara : Isabella Andjanie
Hari / Tanggal : Jumat, 11 Januari 2013
Waktu : 19.00 WITA – 21.00 WITA
Lokasi : Danes Art Veranda, Jl. Hayam Wuruk No. 159 Denpasar 80235 Bali, Indonesia
Telepon : +62-361-242659
Fax : +62-361-242588
Contact Person : +62-817-542-4643 (Andesita Oki), +62-878-382-897-24 (Jhe)
Email : ArchitectsUnderBig3@popodanes.com
Blog : http://ArchitectsUnderBig3.blogspot.com
Issuu : Architects Under Big 3
Facebook : Architects Under Big 3
Twitter : @underbig3
Errin Ugaru: Kulit Kambing dalam Rancangan Busana Muslim
Teks: Yatni Setianingsih | Foto: Dok Pribadi Errin Ugaru | Editor: Intan Larasati

Kreativitas mutlak diperlukan untuk dapat bertahan dalam industri fashion Tanah Air. Hal yang disadari benar oleh perancang busana muslim Errin Ugaru. Berangkat dari hobinya untuk merancang busana muslim, sejak dua tahun silam Errin mulai mendesain busana muslim. Errin mengusung dua label, yakni “Internal by Errin” yang ditujukan untuk kalangan menengah bawah, dan “Errin Ugaru” untuk kalangan menengah atas dengan hasil rancangan yang ekslusif dan terbatas.
Perempuan kelahiran 21 Agustus 1980 ini sebenarnya telah berkecimpung di dunia fashion sejak 15 tahun yang lalu, bersama suaminya Errin membuka bisnis distribution outlet (distro) yang hingga kini masih berjalan. Ide kreatifnya tidak terbatas pada distro, Errin merasa jiwanya terpanggil untuk mendesain busana muslim, karena selama ini menurut pandangannya kebanyakan rancangan busana muslim yang ada di pasaran terlalu monoton dan terkesan tua. Errin yang telah berhijab sejak SMU ini menginginkan baju muslim yang modis, cantik, tetap menjadi diri sendiri ketika memakainya, tidak membosankan, dan tetap sesuai dengan kaidah Islam.
“Saya berkiprah mulai merancang baju muslim dua tahun terakhir ini. Awalnya saya pingin selalu tampil beda dan tidak bosan dengan style baju hijab. Model baju hijab yang ada banyak yang membosankan dan terkesan tua,” ucap Errin kepada Indonesia Kreatif membuka perbincangan.

Ciri Khas Kulit Kambing
Kreativitasnya dalam merancang busana muslim, dibuktikan Errin dalam pemilihan bahan untuk busana yang diberi label Errin Ugaru, yaitu dengan menggunakan bahan kulit kambing. Biasanya material ini digunakan untuk membuat jaket kulit dan busana pria.
“Saya mengangkat kulit karena ingin membuat terobosan baru. Biasanya kan kulit hanya buat jaket. Saya ingin kemas busana muslim juga bisa tampil cantik dengn material kulit, dan saya hanya memakai ini sebagai detail yang memang nantinya menjadi ciri khas design Errin Ugaru,” terangnya.
Fashion dengan bahan kulit yang biasanya terkesan kaku dan hanya dapat dipakai untuk kesempatan santai, lewat kejelian Errin mengaplikasikan bahan kulit kambing dengan bahan kain lainnya menjadikan baju yang nyaman, terkesan mewah, dan feminim tanpa meninggalkan syar`i untuk dipakai dalam acara resmi seperti pesta. Pemakaian kulit kambing tersebut disesuaikan dengan tema busana yang akan dirancangnya, seperti dipakai sebagai manset pada bagian tangan ataupun kerah baju hijab, maupun penggunaan dominan seperti jaket bolero.
Sementara untuk label Internal by Errin, karena rancangannya diperuntukkan bagi style ready to wear, maka bahan yang dipergunakan dipilih yang nyaman untuk busana muslim yang dipakai sehari-hari, seperti jenis kain kaos, lace, sipon, dan katun street. Walau menggunakan bahan yang sedikit berbeda, hasil rancangannya memiliki ciri khas khusus yang feminim dan elegan, serta menggunakan padu padan warna-warna terang yang berani seperti merah, kuning, hijau, dan lain-lain. Sehingga memberikan kesan cerah kepada wajah orang yang memakainya.
Sampai sekarang busana hasil rancangan Errin tidak hanya diminati oleh muslimah di Kota Bandung sebagai tempat butik Errin Ugaru berada, yaitu di Jalan Buah Batu No 62, namun juga muslimah yang berada di luar Kota Kembang. Selain penjualan secara offline di butiknya, Errin pun menawarkan hasil rancangannya secara online melalui website untuk produk Internal By Errin di internalbyerrin.com, e-mail, Blackberry Messenger, Facebook, dan Twitter.

Perkembangan Industri Fashion
Errin melihat perkembangan bisnis industri fashion untuk busana muslim di Indonesia sangat pesat, terutama setelah makin banyaknya perempuan muslim yang berhijab. Ditambah lagi dengan munculnya komunitas-komunitas muslimah baik untuk remaja maupun dewasa. Menurut Errin mereka sangat senang untuk menggunakan baju hijab yang modis dan trendi untuk mempercantik penampilan dalam setiap aktivitasnya. Begitu juga dengan persaingan dalam mendesain busana muslim, Errin mengaku setiap waktu selalu ada tren dan rancangan baju hijab baru yang dikeluarkan oleh para perancang busana muslim di dalam negeri yang sangat kreatif, untuk itu dirinya dituntun harus pintar-pintar mencari inspirasi, ide terbaru, dan ciri khas dari rancangan busana yang dibuat sehingga dapat diminati oleh khalayak.
“Inspirasi dalam merancang busana muslim biasanya bisa datang dari mana saja dan kapan saja, tidak terbatas ruang dan waktu,” ucapnya.
Kendati industri fashion muslim ini tengah naik daun, namun masih sangat butuh peran serta pemerintah terutama dalam bagian promosi. Errin meminta kepada pemerintah untuk memperbanyak ragam acara guna memperkenalkan hasil rancangan para desainer kepada publik melalui pameran maupun fashion show, sehingga nantinya diharapkan Indonesia dapat menjadi kiblat trend fashion di dunia.
Siaran pers: Deddy Corbuzier’s The Mentalist

Siaran pers: Deddy Corbuzier’s The Mentalist
Show Tunggal Mentalist Terbaik Dunia, pertama di Asia
Peraih 2 kali “Mentalist of the Year” dari International Magicians Society (IMS), mentalist Deddy Corbuzier akan menggelar show Live at Gedung Kesenian Jakarta 5 Januari 2013 (2pm), 6 Januari 2013 (11am dan 15pm). IMS adalah society magician terbesar di dunia, dengan anggota lebih dari 37 ribu magician, termasuk Criss Angel dan David Blaine.
The Mentalist sendiri adalah bentuk pertunjukan 2×45 menit dengan jeda 15 menit. Gerbang akan ditutup selama pertunjukan, sehingga bagi pengunjung yang terlambat diharuskan menunggu paruh kedua jika ingin menyaksikan the Mentalist. Pihak panitia sangat peduli akan hal ini. “kami ingin adalah pertunjukan berkelas dengan apresiasi sebesar-besarnya dari penonton. Kami telah menyiapkan gedung pertunjukan terbaik, persiapan yang matang dan dirancang sebaik mungkin. Kita tidak ingin kenikmatan penonton yang datang tepat waktu terganggu oleh kedatangan penonton yang terlambat. Di dalam juga kami tidak memperbolehkan foto dengan flash, makan, ataupun minum. Kami ingin ini menjadi santapan bagi pikiran dan hiburan intelek, dan bukannya seperti pagelaran sulap di mall yang bisa dilewati begitu saja” jelas Halim sugiarto, ketua panitia dari acara ini.
Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) menjadi pilihan pribadi dari Deddy. “waktu kecil saya lihat show sulap di TV, dan saya sangat ingin memiliki pertunjukan seperti itu. sejak SMA saya bahkan sempat menabung untuk menyewa GKJ dan membuat show saya sendiri. Tapi tentu saja cita-cita itu tidak pernah tercapai dan sempat terlupakan. Sekarang, pada saat saya sempat menarik nafas ditengah kesibukan saya, saya merasa ini adalah saatnya.” Jelas Deddy. “project ini bukan untuk mencari uang. Bahkan jika pengunjungnya Cuma 2 orang saya siap tampil di atas panggung” ujarnya lagi dengan penuh percaya diri.
Lantas, kenapa baru menggelar pertunjukan macam ini sekarang? “dulu seni sulap di Indonesia itu kelasnya berada di level pohon dan tiang listrik. Badut sulap. Dibawahnya ada iklan sedot WC dan video shoting wedding. Selama ini saya berusaha untuk meningkatkan kelas seni sulap di Indonesia, karena di Las Vegas, sulap adalah sajian utama. Tidak kalah dengan show Celine Dion atau Britney Spears” jelas ayah dari Ascanio ini. “Seluruh hidup saya adalah magic. dan setelah 15 tahun, saya berada di level dimana saya sadar tidak perlu menjadi magician untuk experience magic, karena seluruh hidup saya adalah magical. Mungkin ini (the Mentalist) adalah kesempatan terakhir buat orang-orang melihat saya performing magic.”
Ucapan itu terlontar karena pada saat ini sang penggagas acara the Master mendapat tawaran untuk menjadi line up magician di luar negeri. Dengan tawaran kontrak selama beberapa tahun, mungkin kita tidak bisa dulu menyaksikan sepak terjangnya selama beberapa tahun kedepan. Tapi dapat dipastikan, ini adalah bentuk show tunggal pertama mentalism yang pernah digelar di Indonesia, bahkan di Asia.
Gaung acara ini sempat menghebohkan jagad twitter di seluruh dunia. Selama 2 hari berturut-turut, #corbuzierSHOW bahkan sempat menduduki worldwide trending topic nomer 1, mengalahkan topic-topik populer saat itu seperti #ipad, #onedirection dan bahkan #merrychristmas sekalipun di tanggal 24-25 Desember 2012 kemarin. Dimulai dari kuis bagi-bagi tiket pertunjukan ini, hingga berbagai gossip tentang sang Master, tak disangka menjadi bahan pembicaraan dengan traffic tertinggi di seluruh dunia!
Info acara: Adrian jibz 0878 789 34567
DEDDY CORBUZIER LIVE!
GEDUNG KESENIAN JAKARTA, jln Gedung Kesenian no.1, Jakarta Pusat (Pasar Baru)
Sabtu, 5 Januari 2013 – SHOW 01 – Closing Gate 14.00 WIB
Minggu, 6 Januari 2013 – SHOW 01 – Closing Gate 11.00 WIB
SHOW 02 – Closing Gate 13.00 WIB
Ticket Box:
www.rajakarcis.com
Corbuzier Shop, Mall Ciputra, Jalan LetJen S. Parman Jakarta Barat
Mellys Garden Bar and Resto jl K.H Wahid Hasyim Jakarta Pusat
VVIP… Rp. 1.000.000,-
VIP… Rp. 800.000,-
Festival… Rp. 500.000,-
Balcony… Rp. 300.000,-
For Reservation:
Follow @corbuzier at Twitter
www.corbuzier.net
Contact: Regina (0812 8460 3717) Halim (0855 888 0505)
QUBtv, TV Online untuk Gaya Hidup Urban
Teks/Editor: Intan Larasati | Foto: dokumentasi QUBtv

Mungkin banyak yang belum pernah mendengar soal QUBtv. Nah, bagi yang belum tahu, QUBtv adalah sebuah televisi berbasis jaringan internet. Lalu apa saja yang ditayangkan di situ? Tak seperti televisi lainnya, QUBtv memberikan informasi tentang budaya urban, tapi dari sudut pandang yang berbeda. Video yang tayang di QUBtv bisa berasal dari berbagai segmen gaya hidup modern kaum urban di Indonesia, seperti musik, seni, budaya pop, atau kuliner. Untuk menyaksikannya, silakan buka qub-tv.com.
QUBtv pertama kali tercetus oleh Tasya P. Maulana dan Eric Liem. Setelah mulai membentuknya di akhir 2011, akhirnya QUBtv mulai online pada April 2012. Televisi online ini berafiliasi dengan QUB, sebuah clothing line untuk pria, dan toys maker, Phantasma. Pada awalnya, QUBtv hanya katarsis dari pekerjaan sehari-hari.
“Menyenangkan mengekspos sub-kultur atau industri yang sering kami apresiasi, tapi belum banyak diangkat media lain,” jelas Tasya, sebagai salah satu founder.
Selain karena ketertarikan mereka untuk mengangkat budaya pop modern, latar belakang pendidikan dan pekerjaan yang berbasis visual dirasa cocok dengan pilihan untuk membuat televisi online. Saat ini ada empat orang yang berperan di balik QUBtv. Selain Tasya dan Eric, masih ada lagi Asih Jenie dan Erfanintya M. Putri yang bertindak sebagai editor.

Berada di tengah persaingan dengan media-media lain, QUBtv tidak terlalu peduli untuk membuktikan keunikannya dibanding televisi online lainnya. Bagi mereka, hal seperti itu tidak terlalu penting, karena selama ini mereka hanya berusaha untuk membuat sesuatu di mana mereka bisa meletakkan passion mereka.
“Terdengar tidak ambisius ya? Tapi bagi kami, itu kayaknya lebih baik daripada menghabiskan waktu untuk terlihat kreatif, tapi pada akhirnya malah tidak mengerjakan apa-apa,” tukas Tasya.
Melihat usianya yang masih belum genap setahun, QUBtv memang masih perlu mengerjakan banyak hal. Untuk urusan networking, awalnya mereka memang hanya mengandalkan teman-teman dan orang-orang sekitar.
Menurut Tasya, mereka memiliki banyak teman yang berbakat dan bersedia membantu. “Kami beruntung memiliki teman-teman yang mau membantu banyak hal, mulai dari mengisi program, promosi, sampai ke urusan deal bisnis.”
Kolaborasi yang baru-baru ini dilakukan QUBtv adalah dengan salah satu perusahaan besar untuk beberapa episode “Space, Interrupted”. Tasya sendiri merasa kolaborasi ini sangat menarik sehingga mereka ingin melakukannya lagi suatu saat nanti.
QUBtv yang mencakup gaya hidup kaum urban tentu saja membuat mereka banyak mengenal figur-figur menarik. “Suatu saat nanti pasti kami akan libatkan dalam program kami,” janji Tasya. Tapi kemungkinan kita belum bisa menyaksikannya dalam waktu dekat. Karena selain list tersebut cukup panjang, mereka juga masih mencari jalan agar figur-figur tersebut bisa diekspos melalui acara-acara yang ada di QUBtv.

Program “Space, Interrupted” yang tadi telah disebutkan adalah sebuah acara yang merekam para musisi bermain musik d tempat-tempat yang tidak biasa, yaitu di mana pun selain panggung atau konser. Salah satu episode-nya menampilkan Hightime Rebellion, di mana mereka bermain di Kutakatik Art & Craft Class, yaitu sebuah kelas seni dan kerajinan untuk anak. Ide brilian untuk tampil di tempat tersebut datang dari Miyane, sang vokalis. Menurut Tasya, itu adalah salah satu episode yang paling menyenangkan yang mereka buat. Para murid Kutakatik terlihat sangat menyukai kehadiran Hightime Rebellion di tengah-tengah mereka.
“Sebenarnya, yang paling senang itu ya kami ini, anggota band dan kru. Saat itu rasanya seperti menemukan jiwa kanak-kanak dalam diri kami lagi,” sahut Tasya sambil tertawa.
Selain program “Space, Interrupted”, ada beberapa project yang direncanakan untuk berjalan rutin. Salah satunya adalah tabloid yang bernama QUBPAPER. Versi cetaknya telah ada di beberapa spot di Jakarta dan Singapura. Sedangkan bersi digitalnya bisa di-download di sini. Di tahun 2013 ini QUBtv berencana untuk menjalin kerjasama dengan Aweh.tv di Korea Selatan. Kerjasama ini akan dilakukan dalam bentuk content sharing, sehingga nantinya acara QUBtv akan bisa diperkenalkan ke masyarakat Korea Selatan.

Dalam berkreasi, QUBtv sebetulnya tidak memiliki panutan secara khusus, tapi ada beberapa yang mereka referensikan. Di antaranya adalah Aweh.tv yang melakukan hal yang mirip dengan QUBtv. Selain itu ada Ruangrupa, dengan spirit mereka yang mengangkat tema-tema urban. Sedangkan program “Space, Interrupted” itu sendiri terinspirasi dari “La Blogotheque”. Maka itu Tasya tidak terganggu dengan komentar yang menganggap “Space, Interrupted” hanyalah “La Blogetheque” versi lokal.
“Memang referensi acara itu dari mereka kok,” cetusnya.
Ke depannya, QUBtv berencana untuk menambah konten mereka. Tidak hanya musik, tapi juga segmen lainnya, seperti fashion, kuliner, seni, dan lainnya. Saat ini mereka sedang mempersiapkan program terbaru yang berjudul “The Inventives”. Program ini mengangkat figur atau perusahaan lokal yang dianggap berhasil dan memiliki influence di bidang masing-masing. Episode pertama menampilkan Taco Local, sebuah restoran khas Meksiko yang ada di Jakarta.

“Selain itu, kami juga terbuka untuk melakukan kolaborasi, sponsorship show, atau jenis kerja sama lainnya yang menarik,” tambah Tasya.
Bagi Tasya yang juga bertindak sebagai art director QUBtv ini, ekonomi kreatif yang saat ini sedang berkembang beberapa tahun belakangan, tampaknya belum memberikan dampak besar bagi QUBtv. Memang beberapa tahun terakhir ini pemerintah mulai memberi perhatian pada industri kreatif. Walaupun begitu, hal itu dirasa masih jauh untuk mencapai sebuah industri yang bisa dianggap “decent”. Tasya memang mengakui kalau pelaku kreatif tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Perlu kesadaran dari semua pelaku industri kreatif untuk mendidik konsumen agar dapat lebih mengapresiasi apa yang disebut “produk kreatif” ini.
“It’s still a long way, but we’re interested to take part in this movement,” ucap pria penggemar komik Tintin ini menutup perbincangan.
http://qub-tv.com/ | @QUBtv | http://www.facebook.com/QUBtv

